Bagaimana (Saya) Menulis Cerpen Dalam Satu Minggu?

Atau lebih cepat.

Kalau Anda mau, satu hari pun jadi.

Kadang-kadang hal non teknis yang sering jadi kendala menyelesaikan sebuah cerpen ketimbang masalah teknis.

Ide cerita sudah ada, karakter dan tokohnya sudah dikenal baik, latar tempatnya pun sudah ada, dan yang lebih hebatnya, akhir ceritanya sudah tahu. Jadi, rasa-rasanya tidak mungkin jika tidak bisa menyelesaikannya.

Bisa dipahami jika seseorang belum berpengalaman atau belum tahu teknis menulis cerpen, akan tetapi sangat disayangkan jika ide yang bagus itu tidak diwujudkan. Inilah yang membedakan antara penulis dan yang ingin menulis: seorang penulis akan terus menulis, sementara yang ingin menulis tidak pernah menyelesaikan tulisannya.

Bahkan, untuk seorang penulis cerpen berpengalaman sekali pun, ketika sudah menyelesaikan satu cerpen, ia akan menulis dari nol lagi untuk menulis cerpen barunya. Artinya, kondisinya sama dengan penulis pemula. Arti lainnya, tidak ada jaminan cerpen barunya akan sama bagusnya dengan cerpen sebelumnya. Bisa saja jadi lebih bagus. Atau, jauh lebih bagus.

Sebagaimana judul tulisan ini, walaupun saya-nya dalam tanda kurung, perlu saya tegaskan bahwa apa yang saya uraikan berikut merupakan pengalaman saya menulis cerpen. Tentang bagaimana saya menyelesaikan sebuah cerpen dan apa saja yang saya lakukan selama menulis cerpen. Jadinya, tidak ada jaminan cara saya menulis bisa berhasil buat Anda.

Mari kita mulai …

Bulan lalu (Juni 2022) saya menulis lima cerpen, yang kalau dirata-rata saya menulis satu cerpen per minggu. Dalam setiap cerpennya, saya menulis tidak lebih dari 2000 kata, meskipun sebetulnya saya tidak menghitung cerpen saya akan berhenti di jumlah tertentu—tapi karena memang ceritanya berakhir di jumlah tersebut. Saya pikir, 2000 kata sudah lumayan banyak untuk cerpen yang dibaca lewat smartphone. Di samping itu, 2000 kata jadi jumlah yang saya anggap bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu.

Tetapi, bukan berarti saya tidak akan lagi menulis cerpen lebih dari 2000 kata. Ada cerita yang tidak mungkin ditulis sangat pendek. Misalnya, cerpen yang saya sedang kerjakan sekarang saja sudah lebih dari 2000 kata.

Setelah menulis Weerwolven, yang sampai lebih 5000 kata itu, saya mencoba untuk menulis cerpen yang durasinya hanya sehari atau kurang dari itu. Saya pikir, menulis cerita yang durasinya singkat namun berkesan jadi sebuah tantangan. Karena, dengan kata yang terbatas (dibatasi) penulis dituntut lebih kreatif—seperti halnya membuat video TikTok atau ngetwit. Salah satu cerita pendek (benar-benar pendek) yang membuat saya terkesan dan saya jadikan rujukan adalah Hobnail, cerpen horor karya Crystal Arbogast, yang jumlahnya hanya 1100-an kata itu, yang durasinya hanya seharian itu, mampu menghadirkan horor kejutan di akhir cerita.

Bagaimanapun, apakah itu cerpen 2000 kata atau 5000 kata, saya selalu melakukan hal yang sama sebelum sebelum dan selama menulis. Yakni, memastikan diri saya nyaman. Kenyamanan tentunya menyangkut banyak hal, tapi saya tidak membiasakan minum kopi atau merokok supaya nyaman. Kadang-kadang saya mendengarkan musik saat menulis. Kadang-kadang saya menulis di suasana yang tenang.

Kenyamanan bukan hanya berkaitan dengan hal fisik, yang non fisik sering kali lebih penting. Misalnya, saya harus merasa nyaman dengan tema cerita saya atau apa yang akan saya tulis. Tema yang bertentangan dengan prinsip dan hati nurani tidak akan saya tulis. Saya juga tidak suka nulis hal-hal yang nantinya jadi kontroversi. Setidaknya untuk saat ini.

Kenyamanan tema juga bisa diukur dari seberapa antusias saya menulis cerita tersebut. Jika ada dua, tiga, atau empat ide cerita, maka saya pilih yang paling ingin saya tulis. Tidak harus selalu yang mudah, meskipun sering kali yang mudah itulah yang membuat saya antusias.

Nyaman juga berarti saya menguasai cerita dan punya gambaran (bayangan) ceritanya. Dari awal sampai akhir. Seperti menonton film. Anda boleh menyebutnya berkhayal atau berimajinasi.

Berimajinasi bermanfaat untuk menjawab pertanyaan: siapa, apa, bagaimana, kapan, di mana, dan lainnya. Di antara pertanyaan-pertanyaan itu, pertanyaan paling penting dan paling sulit yang harus saya jawab sebelum menulis adalah bagaimana.

Bagaimana jika “Aku” yang jadi hantunya? Bagaimana caranya? Bagaimana selanjutnya? Bagaimana supaya adegan ini tampak wajar? Bagaimana supaya tidak terkesan kebetulan terjadi? Bagaimana membuat dia dikira mati oleh pembaca? Bagaimana … dan bagaimana yang lain.

Meskipun begitu, ada kalanya saya terus menulis tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tanpa mencaritahu dulu seperti apa plotnya. Saya pikir, toh nanti juga ketemu. Dan memang benar, plot itu datang “dengan sendirinya.” Saya lumayan banyak menulis cerpen dengan cara ini. Misalnya cerpen Kepiting Setan, Weerwolven, Mengintip Amanda, Surat, Kartu Pos, dan Galuh.

Tentunya ada keuntungan maupun tantangan tersendiri seorang penulis tidak tahu akhir ceritanya. Keuntungannya, tokoh tidak diarahkan penulis pergi kemana atau harus berbuat apa. Di sini, tokoh akan bebas menentukan nasibnya dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Sedangkan tantangannya adalah, karena ini cerpen maka ada batasan supaya ceritanya tidak terlalu banyak bercabang.

Hal yang membuat saya nyaman berikutnya adalah tempat. Sebetulnya saya tidak terlalu mempermasalahkan tempat meskipun saya punya tempat menulis favorit. Bagi saya yang penting suasananya tidak terlalu mengganggu. Karena itu, saya lebih mementingkan waktu menulis.

Pagi adalah waktu yang tepat buat menulis. Antara jam 6 dan jam 10. Tentunya setelah semua urusan di rumah beres. Dulu, saya lebih suka menulis malam hari, tapi saya jadi kurang tidur. Sekarang, menulis malam hanya sesekali saja. Saya menulis rata-rata sekitar tiga jam per hari dengan jumlah kata bervariasi, sekitar 300-400 kata per hari. Tiga jam pertama itu jadi waktu paling penting, paling nyaman, paling bersemangat. Di luar itu, saya tidak memaksakan untuk lanjut menulis. Tetapi, itu hanya masalah kebiasaan. Saya bisa saja lebih nyaman menulis di siang hari nantinya. Atau, mungkin tengah malam.

Sedikit tentang pembukaan cerita. Saya rasa bagian ini bagian terpenting dari mulai menulis. Buat saya, paragraf pertama itu seperti batu lompatan, sehingga saya akan buat sebagus mungkin. Kalau saya sudah menyukai paragraf pembukanya, saya semakin bersemangat menulis paragraf selanjutnya—yang biasanya akan lebih mudah.

Saya tidak punya teknik khusus membuka cerita. Kadang-kadang saya membukanya dengan dialog, seperti dalam cerpen Steik Mr. Obama dan Sebuah Kisah di Kereta. Kadang-kadang dengan menggunakan kata “setelah” di awal kalimat. Seperti contoh di bawah:

Setelah hampir dua puluh tahun berpisah, kami bertemu lagi di Indomaret, waktu itu saya baru akan ke kasir saat mendengar seseorang memanggil nama saya, …. — Dua Juta Dolar.

Setelah tiga atau empat kali menolak ajakannya, akhirnya aku menerima ajakan Jaelani untuk menemaninya pergi ke pameran lukisan tunggal di Jakarta.Pameran Lukisan.

Setelah hampir delapan tahun berkeliling dunia dan menikmati hidangan lezat di restoran-restoran ternama di berbagai negara, ternyata restoran terbaik ada di negeri saya sendiri. Di Korea. Letaknya di Seoul, Distrik Gangnam, lantai 7 Hotel JW Marriot. — Makan Malam di Gangnam-Gu.

Karena saya suka membagus-baguskan paragraf pembuka, saya kadang-kadng membuat paragraf pembuka yang sedikit berirama. Misalnya dalam cerpen Surat, Kartu Pos, dan Galuh di bawah ini:

Aku suka hujan. Memandangi air yang jatuh deras ke bumi, menetes dari ujung-ujung daun, mendengar suara gemuruhnya di atas atap, mencium baunya. Aku bisa berlama-lama memandanginya sampai-sampai guru pernah menegurku, “Mau main hujan-hujanan di luar, Ali?”

*

Menulis itu pekerjaan yang butuh konsistensi, disiplin, dan komitmen. Jujur saja, saya banyak gagal di sini. Suatu kali saya pernah membuat sekian ratus kata dan sepertinya akan jadi cerita bagus, tetapi karena tidak disiplin, cerita itu pernah selesai. Kalau sudah begini, sangat sulit untuk memulainya lagi.

Namun saya juga lumayan sering berada di sisi konsisten. Berbagi pengalaman di sisi yang positif ini, menurut saya konsitensi dan disiplin tidak akan terjadi jika saya tidak memaksakan diri untuk terus menulis. Saya sudah sering membuktikannya saat saya bisa menyelesaikan satu cerpen dalam waktu singkat.

Ada kalanya saya tidak ingin menulis. Tapi, karena menulis itu sudah jadi hobi dan kesenangan, hari-hari saya tidak lepas dari yang berkaitan dengan menulis. Misalnya baca buku, baca ulang tulisan sendiri, atau sekedar memikirkannya.

Berkaitan dengan itu, saya jadi teringat pesan Kim Woo Chung, Konglomerat pendiri Daewoo, saat ia bertanya pada pemain sepak bola. Yang kira-kira seperti ini:

“Apa yang Anda lakukan kalau tidak sedang bertanding?” tanyanya.

Pemain sepak bola itu menjawab, “Saya berlatih.”

“Kalau tidak sedang berlatih?”

“Saya menonton bola.”

“Kalau tidak menonton bola?”

“Saya membaca berita tentang bola.”

“Kalau tidak membaca berita tentang bola?”

“Saya memikirkan bola.”

Jadi kesimpulannya, kalau kita sedang menyukai sesuatu (atau seseorang) pastinya kita akan melakukan apa pun yang berhubungan dengannya meskipun itu sekedar memikirkannya.

Dalam menulis, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, banyak hal yang bisa dilakukan saat sedang tidak menulis. Salah satunya membaca ulang. Inilah yang paling sering saya lakukan saat tidak sedang tidak menulis. Saya juga membaca ulang cerpen-cerpen lama saya meskipun saya sedang menulis cerpen baru. Kedengarannya membosankan, tapi sebetulnya tidak. Percayalah. Saya sudah sering melakukannya dan tidak pernah merasa bosan. Apalagi, karena saya tidak mengirim cerpen saya ke penerbit, maka membaca ulang jadi terasa sangat penting. Dengan membaca ulang kadang-kadang (atau malah sering) saya menemukan kesalahan yang harus diperbaiki, ide untuk mengganti kalimat yang kurang enak dibaca atau membuatnya jadi lebih sederhana, atau hal-hal lain tidak pernah terpikirkan sebelumnya, atau malahan mendapatkan akhir cerita yang berbeda. Jadinya tidak heran, setelah sekian lama (bisa berbulan-bulan kemudian), cerpen tersebut sudah sangat berubah dari pertama kali saya menyelesaikannya.

*

Untuk tambahan. Sewaktu menulis, saya sering kali dapat ide baru yang bisa mengubah jalan cerita, mengganti sudut sudut pandang dan perubahan lainnya. Ketika itu terjadi, saya akan membuat satu lembaran baru, kemudian meng-copy paste tulisannya (atau save as), lalu meneruskan tulisan yang baru, dan disimpan dengan nama baru, misalnya “Cerpen ABC-2.” Kalau ada perubahan lagi, di-save as lagi, kemudian disimpan dengan nama: “Cerpen ABC-3”, dan seterusnya. Kalau tidak ada perubahan, tulisan sebelumnya dilanjutkan saja. Hal ini penting, karena siapa tahu tulisan yang lama akan dibutuhkan nantinya. Saya juga melakukan ini saat ada penambahan paragraf, sehingga saya tahu di tanggal berapa tulisan saya ada kemajuan.

Tambahan lain. Saya juga suka mencatat ide-ide, baik itu kata-kata spesial atau alternatif akhir cerita. Saya biasa mencatatnya di WhatsApp, yang saya kirim ke akun WhatsApp saya yang lain.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *